Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah dan Perlindungan Gambut

Tinggi muka air tanah (TMAT) adalah parameter yang dapat merepresentasikan bagaimana kondisi ekosistem gambut. Turunnya tinggi muka air tanah yang signifikan dapat mengakibatkan gambut mengering. Sedangkan dengan kondisi gambut yang kering, potensi terhadap kebakaran dapat meningkat. Selain itu, gambut yang mengering juga berpotensi mengakibatkan pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.
Pengertian Gambut
Gambut adalah tanah organik yang terbentuk oleh akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami proses pembusukan dengan tidak sempurna selama ribuan tahun dalam kondisi tergenang air dan miskin dengan oksigen. Salah satu ciri dari gambut yang membedakan tanah gambut dengan tanah mineral adalah tingkat porositasnya.
Keunikan yang dimiliki oleh gambut adalah memiliki tingkat porositas atau daya serap air yang sangat tinggi. Kemampuan gambut dalam menyerap dan menyalurkan air mencapai 100% hingga 1300% dari bobot keringnya. Berbeda jauh dengan kemampuan daya serap gambut yang tinggi, tanah mineral hanya mampu menyerap 20% hingga 30%.
Sementara itu, dari sudut pandang hukum atau peraturan yang tertuang dalam PP No 57 tahun 2016 pengertian gambut adalah material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang telah terdekomposisi tidak sempurna dan terakumulasi pada daerah rawa.
Pada hakikatnya, gambut adalah lahan basah (wetland) yang materi penyusunnya berupa bahan organik yang miskin hara dengan kondisi selalu tergenang.
Jenis Gambut
Gambut memiliki beberapa jenis yang pembagiannya ditentukan berdasarkan dua parameter meliputi tingkat kesuburan dan tingkat kematangannya. Berdasarkan kedua parameter tersebut, berikut adalah jenis-jenis gambut yang tersebar di di beberapa wilayah:
Jenis Gambut Berdasarkan Tingkat Kematangan:
- Saprik (Matang)
Gambut saprik diartikan pula sebagai gambut matang yang telah melalui proses pelapukan hingga sulit untuk kemudian mengenali bahan pembentuknya. Tekstur yang dimiliki oleh gambut saprik relatif halus sehingga saat digenggam atau diremas menggunakan tangan serat yang tertinggal kurang dari 15%. Selain itu, gambut saprik memiliki warna cokelat tua hingga mendekati hitam.
- Hemik (Setengah Matang)
Gambut hemik adalah gambut setengah matang sehingga bahan pembentuknya masih bisa untuk dikenali. Memiliki warna cokelat dan ekstur yang dimiliki oleh gambut hemik cenderung lebih kasar jika dibandingkan dengan gambut saprik. Jika digenggam atau diremas maka serat yang tertinggal di tangan dapat berkisar 15% hingga 75%.
- Fibrik (Mentah)
Gambut fibrik adalah gambut yang belum melapuk dan sangat mudah untuk dikenali. Sama-sama berwarna cokelat seperti gambut hemik dan saprik, gambut fibrik memiliki tekstur yang didominasi dengan serat kasar sehingga meninggalkan banyak serat ketika digenggam atau diremas menggunakan tangan.
Jenis Gambut Berdasarkan Tingkat Kesuburan:
- Eutrofik
Eutrofik adalah jenis gambut yang memiliki kekayaan unsur hara baik bahan mineral, basa, maupun unsur hara lainnya. Jenis gambut ini memiliki persebaran di daerah pantai dan sungai. Lapisan tipis yang dimiliki oleh gambut eutrofik juga turut dipengaruhi oleh adanya sedimentasi sungai atau laut.
- Mesotrofik
Mesotrofik adalah jenis gambut yang memiliki kandungan mineral basa yang sedang. Meskipun gambut ini agak subur, namun gambut mesotrofik tidak lebih subur dari jenis gambut eutrofik.
- Oligotrofik
Oligotrofik adalah gambut yang miskin hara dan mineral sehingga menjadikannya sebagai jenis gambut yang tidak subur. Minimnya kandungan mineral pada gambut oligotrofik berupa Ca, Mg, K, dan Na menjadikannya yang paling rendah berdasarkan tingkat kesuburannya.
Mengapa Tinggi Muka Air Tanah Gambut Harus Selalu Dipantau?
Tinggi muka air tanah menjadi parameter yang penting pada pengelolaan gambut. Pada hakikatnya, gambut adalah lahan basah dan dengan kondisi yang basah itu pula gambut turut memegang kendali dalam menyimpan karbon dalam tanah. Dalam kondisi alaminya yang basah, gambut memiliki kemampuan untuk menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar yang mampu mencapai 18% hingga 60% dari total bobot keringnya.
Tinggi muka air tanah juga menjadi parameter untuk menilai bagaimana kondisi gambut di suatu wilayah. Bahkan, kondisi tinggi muka air tanah gambut juga dapat mengindikasikan degradasi lingkungan yang membutuhkan perhatian khusus.
Ketentuan terkait penilaian terhadap kondisi gambut juga tertuang dalam PP No. 57 Tahun 2016 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut. Ekosistem gambut dengan fungsi budidaya dinyatakan rusak apabila tinggi muka air tanah lebih dari 0,4 meter di bawah permukaan gambut.
Sedangkan di sisi lain tinggi muka air tanah juga yang turun terlalu dalam berpotensi untuk menyebabkan gambut menjadi kering dan teroksidasi karena paparan udara. Saat gambut mengalami oksidasi, maka karbon yang tersimpan di dalam gambut akan terlepas ke atmosfer. Kondisi tersebut tentunya akan berpotensi untuk memperburuk perubahan iklim yang terus berlangsung hingga hari ini.
Dengan pertimbangan itu pula, pemantauan tinggi muka air tanah secara terus-menerus sangat diperlukan. Inovasi terhadap pengelolaan ekosistem gambut diperlukan untuk turut mendukung upaya perlindungan serta upaya konservasi gambut.
Implementasi Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah Dalam Mitigasi Kerusakan Gambut
Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) hadir sebagai solusi dalam upaya pengelolaan gambut melalui pemantauan tinggi muka air tanah secara otomatis dan real-time. Dalam mendukung upaya pengelolaan, perlindungan, hingga konservasi gambut perangkat ini dilengkapi dengan sensor IoT untuk melakukan pemantauan tinggi muka air tanah dengan akurat.
Perangkat ini dilengkapi dengan sensor berbasis teknologi internet of things (IoT) untuk mendukung pengelolaan gambut dengan parameter pemantauan meliput tinggi muka air tanah (TMAT), curah hujan, kelembapan tanah, dan suhu tanah. Dengan sensor tersebut tidak hanya memberikan data hasil pemantauan yang akurat namun juga mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan tepat.
Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) turut dilengkapi dengan konektivitas internet sehingga data hasil pemantauan terkait kondisi gambut dapat diakses dari mana saja dan kapan saja. Dengan demikian, implementasi Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) mendukung respon cepat dan meningkatkan mitigasi risiko kebakaran gambut. Sistem operasi otomatis serta kemampuan mendukung real-time monitoring dapat mendukung langkah antisipasi lebih cepat sehingga berbagai potensi kerugian dapat diminimalisir.
Sumber:
https://peraturan.bpk.go.id/Read/33329/PP%20Nomor%2071%20Tahun%202014.pdf
https://pantaugambut.id/pelajari/karakteristik
https://pantaugambut.id/kabar/gambut-si-miskin-hara-yang-kaya-manfaat