
Tinggi muka air tanah merupakan salah satu parameter kunci terhadap konservasi dan pengelolaan ekosistem gambut. Seiring berkembangnya waktu, tantangan terhadap upaya perlindungan gambut semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan cepat dan akurat yang berbasis data aktual di lapangan. Pemantauan tinggi muka air tanah secara real-time sangat diperlukan untuk meningkatkan mitigasi risiko terhadap degradasi gambut.
Pengertian Konservasi Air
Konservasi secara umum dapat diartikan sebagai upaya maupun tindakan untuk meningkatkan pengelolaan maupun perlindungan. Dalam hal ini, konservasi air tanah adalah pengelolaan suatu tempat yang bertujuan untuk memelihara keberadaaan sumber daya air.
Adapun tujuan dari konservasi air adalah untuk menjaga keberlanjutan, sifat, serta fungsi air agar dapat tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang baik untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup.
Menjaga dan mengelola air secara kuantitas maupun kualitas tetap tersedia sangat penting untuk menghindari berbagai potensi persoalan lingkungan. Secara prinsip konservasi air memiliki fokus untuk mengatur curah air hujan yang jatuh ke permukaan tanah agar terjadi keselarasan aliran air dengan kapasitas resapannya ke dalam tanah.
Hal tersebut dimaksudkan sebagai mitigasi risiko dalam upaya meminimalisir potensi bencana yang dapat terjadi seperti banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau.
Menurut UU No 37 Tahun 2014 konservasi tanah dan air adalah upaya perlindungan, pemulihan, peningkatan, dan pemeliharaan tanah pada lahan sesuai kemampuan dan peruntukan lahan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan kehidupan yang lestari.
Pengendalian dan Pencegahan Kerusakan Air Tanah
Air tanah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari berbagai aktivitas manusia. Pemanfaatan air tanah menjadi sangat vital khususnya pada pemanfaatan di kebutuhan domestik ataupun aktivitas rumah tangga yang bergantung pada air tanah. Mulai dari kebutuhan untuk air minum hingga sanitasi.
Selain dimanfaatkan dalam skala aktivitas domestik, air tanah juga turut dimanfaatkan dalam berbagai jenis aktivitas industri. Sebagai contoh pada pabrik tekstil air tanah kerap kali digunakan dalam proses produksi saat proses pencelupan. Selain itu juga air tanah dapat dimanfaatkan untuk industri kulit untuk membersihkan kulit. Manfaat lain dari keberadaan air tanah yang tak jarang ditemukan dalam goa bawah tanah juga memiliki nilai manfaat untuk dijadikan wisata alternatif.
Air tanah dapat dimanfaatkan dengan mempertimbangkan beberapa aspek yang meliputi:
- Kebutuhan air tanah untuk jangka panjang berdasarkan pemanfaatan air tanah yang telah ada dan rencana pengembangan air tanah selanjutnya.
- Rekaan (model simulasi matematis) kondisi hidrogeologis mirip keadaan alami.
- Perencanaan pemanfaatan air tanah dalam kurun waktu tertentu sesuai kuota pengambilan air tanah yang aman. Sehingga pemanfaatannya tidak sampai menimbulkan dampak negatif.
- Pemanfaatan air tanah untuk memenuhi permintaan harus lebih kecil atau maksimum sama dengan daya dukung ketersediaannya secara alami.
- Lokasi yang kondisi lingkungan air tanahnya telah rawan atau kritis dilakukan pengaturan pengambilan serta peruntukannya lebih lanjut sesuai kemampuan ketersediaannya serta bagi yang telah ada wajib dilakukan pengurangan debit pengambilan.
Tinggi Muka Air Tanah Gambut
Gambut adalah satu bentuk keunikan sumber daya alam. Meskipun dinilai miskin hara, namun keberadaan gambut memiliki peran penting dalam menyimpan karbon. Bahkan lebih jauh, perannya juga sangat vital dalam menghadapi perubahan iklim.
Gambut kerap juga disebut sebagai peatland ataupun wetland. Dalam kondisi alaminya gambut terdiri atas bahan organik yang miskin hara sebagai materi atau bahan penyusunnya dan selalu pada kondisi tergenang .
Dalam peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. P37 Tahun 2019 pengertian gambut adalah material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 cm atau lebih dan terakumulasi pada rawa.
Pengelolaan gambut dan pemanfaatannya bagi tanaman perkebunan seperti kelapa sawit hingga pengembangan bagi hutan tanaman industri (HTI) menjadi tantangan yang membutuhkan langkah mitigasi yang baik. Terlebih lagi, dalam mengantisipasi pengaruh yang berpotensi membawa dampak terhadap kondisi tinggi muka air tanah gambut.
Pemanfaatan gambut untuk difungsikan sebagai area perkebunan bagi tanaman perkebunan menghadapi tantangan. Pembuatan drainase di area kebun kelapa sawit menjadi satu contoh terhadap intervensi manusia melalui aktivitas industri perkebunan. Adanya drainase ini dimaksudkan untuk membuang kelebihan air sehingga pertumbuhan akar dan tanaman tidak terganggu.
Padahal seperti yang kita ketahui jika sifat alami gambut adalah basah dan selalu dalam kondisi tergenang. Pembuatan drainase di wilayah lahan gambut ini justru sangat rentan terhadap adanya degradasi gambut yang berpotensi membawa berbagai dampak bagi lingkungan.
Salah satu pengaruh dari adanya drainase di lahan gambut adalah terhadap kondisi tinggi muka air tanah. Pembuangan air yang berlebih pada lahan gambut melalui sistem drainase buatan berpotensi mengakibatkan penurunan tinggi muka air tanah.
Dampak Penurunan Tinggi Muka Air Tanah
Penurunan tinggi muka air tanah dapat memicu terjadinya degradasi lahan gambut. Selain itu, penurunan tinggi muka air tanah gambut berpengaruh terhadap:
1. Perubahan Suhu dan Kelembapan
Kondisi tersebut akan memicu terjadinya pelapukan dan permukaan gambut semakin menurun. Sedangkan adanya proses pelapukan turut berpotensi untuk menghasilkan asam organik yang bersifat racun. Tingkat keasaman atau pH gambut mencapai 3 – 5.
2. Emisi Karbon
Dalam kondisi yang masih alami gambut dapat menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Kemampuan gambut menyimpan karbon diperkirakan mencapai lebih dari 550 gigaton karbon. Dengan luasan mencapai 13,43 juta hektar, gambut di Indonesia diperkirakan mampu menyimpan karbon hingga 57,4 gigaton. Namun, jika terjadi penurunan tinggi muka air tanah yang signifikan hingga gambut menjadi kering maka yang terjadi adalah sebaliknya.
3. Kebakaran Hutan dan Lahan
Pengeringan gambut melalui drainase buatan untuk difungsikan sebagai lahan perkebunan monokultur seperti kelapa sawit berpotensi membuatnya rentan terbakar. Terlebih saat musim kemarau, curah hujan yang minim dan peningkatan suhu yang signifikan membuka celah untuk terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan.
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, pemantauan tinggi air tanah sangatlah penting untuk mendukung pengelolaan, perlindungan, dan bahkan konservasi air tanah. Dalam hal ini, pengamatan terhadap kondisi tinggi muka air tanah yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan mitigasi risiko yang berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan.
Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) menjadi teknologi yang dihadirkan sebagai inovasi dan solusi untuk mendapatkan informasi atau data tinggi muka air tanah secara akurat. Perangkat ini berbasis teknologi internet of things (IoT) dengan sistem pengoperasian otomatis dan real-time selama 24 jam non stop. Implementasi Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut turut mendukung upaya konservasi air tanah dan ekosistem gambut.
Sumber:
https://conference.unsri.ac.id/index.php/lahansuboptimal/article/viewFile/1868/1122