Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

Tanah Gambut
sumber: econusa.id

Tanah gambut memiliki penyebaran yang luas di Indonesia. Lahan-lahan dataran rendah di Pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Irian umumnya tertutup oleh endapan gambut. Gambut adalah bahan organik setengah lapuk yang terakumulasi di permukaan tanah.

Bahan ini bersifat sangat sarang dan koloidal, serta dapat menyerap air sampai dengan satu setengah kali dari berat keringnya. Umumnya terakumulasi pada permukaan tanah yang tergenang atau sangat lembap. Kimia air gambut dicirikan dengan pH yang rendah karena tingginya kandungan asam humat. Kandungan nutrisi tanah gambut untuk tumbuhan sangat ditentukan oleh kedalaman lapisan mineral yang mengalasinya.

Pengertian Gambut

Lahan gambut adalah jenis lahan basah dan tersusun dari bahan tanaman mati yang mengalami proses pembusukan secara perlahan. Lahan gambut terbentuk melalui akumulasi bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang membusuk selama ribuan tahun. Proses ini terjadi di lingkungan yang tergenang air, seperti rawa, cekungan sungai, dan kawasan pesisir.

Tantangan Ekosistem Gambut

Salah satu tantangan yang dihadapi terkait dengan upaya mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah sulitnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya api di lahan gambut. Penggunaaan api masih sangat sering dilakukan oleh masyarakat maupun perusahaan. Untuk membuka lahan karena penggunaan api ini dianggap sebagai cara yang paling mudah, murah dan cepat.

Selain itu, tantangan dalam hal implementasi komitmen dan kebijakan restorasi gambut adalah koordinasi antar pemangku kepentingan. Tumpang tindih antar status kepemilikan lahan gambut dan izin penggunaannya kerap menjadi penghalang dalam pelaksanaan program restorasi gambut.

Program restorasi gambut juga memerlukan pendanaan yang besar dan komitmen jangka panjang. Pemulihan gambut yang terdegradasi hingga kondisinya menjadi mendekati kondisi alami membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, belum ada peta gambut yang detail yang dapat membantu dalam penyusunan rencana restorasi gambut yang tepat sasaran.

Setelah segala perencanaannya, dalam menjalankan komitmen restorasi gambut juga diperlukan partisipasi masyarakat dalam menyumbang pengetahuan pengelolaan gambut tradisional yang berkelanjutan, dan dalam memantau kelangsungan program restorasi gambut di lapangan.

Karakteristik Gambut

Karakteristik unik lahan gambut di wilayah pesisir ini dipengaruhi oleh interaksi antara tutupan lahan, sifat fisik tanah, dan tinggi muka air. Perubahan tutupan lahan, terutama untuk pembukaan lahan pertanian, perkebunan, dan pemukiman, merupakan faktor utama yang mempercepat degradasi ekosistem gambut, mengurangi kapasitasnya untuk menyimpan air dan karbon. Degradasi ini juga berisiko mempercepat pelepasan gas rumah
kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.

Kandungan
Tanah gambut ditandai dengan kandungan karbon yang tinggi dan kandungan mineral yang rendah. Tanah gambut juga memiliki tingkat pH yang rendah akibat pelepasan tanin dari sisa tanaman yang belum terurai. Sedangkan tanah mineral dapat bersifat asam, netral, atau basa, tergantung pada bahan aslinya.

Daya Serap
Lahan gambut memiliki daya serap air yang luar biasa tinggi. Ekosistem ini mampu menampung volume air hingga 450% bahkan 850% dari bobot keringnya. Karakteristik hidrologis yang menyerupai spons raksasa ini menjadikan gambut sebagai pengendali banjir yang sangat efektif. Saat musim penghujan, sekaligus menjadi cadangan air andalan yang mencegah kekeringan saat musim kemarau tiba. Bahkan, walaupun tanah gambut tersebut sudah mulai mengalami dekomposisi atau penguraian. Kemampuannya dalam menahan air masih mencapai 2 hingga 6 kali lipat dari berat keringnya.

Kemampuan Menyimpan Karbon
Lahan gambut memiliki kemampuan menyimpan karbon yang jauh lebih tinggi (18-60% bobotnya) dibandingkan dengan tanah mineral (0.5-5% bobotnya). Namun, kadar keasaman di lahan gambut sangat asam (pH<4) yang membuat tingkat kesuburannya pun rendah karena unsur hara makro dan mikro (P, K, Ca, Mg, Cu, Zn, Mn, dan Fe) yang cenderung rendah dibandingkan tanah mineral. Sehingga hanya beberapa jenis tumbuhan tertentu saja yang dapat hidup di lahan gambut.

Proses Terbentuknya Gambut
Proses pembentukan gambut berlangsung selama ribuan tahun dimulai dari adanya cekungan atau genangan air yang sangat luas yang mengalami pendangkalan secara perlahan dan bertahap. Pendangkalan ini terjadi akibat tanaman yang tumbuh di lahan basah (bahan-bahan organik) kemudian mati, menumpuk di dasar cekungan, lalu mengalami pembusukan yang lambat karena tidak adanya udara. 

sumber:

yiari.or.id

https://www.detik.com/kalimantan/kalimantan-lestari/d-8591560/dua-sisi-lahan-gambut-menjaga-kestabilan-alam-dan-bahaya-karhutla

https://www.rekoforest.org/id/warta-lapangan/perbedaan-utama-tanah-gambut-dan-tanah-mineral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *