
sumber: mertani.co.id
Indonesia merupakan negara dengan Lahan Gambut luas tropika yang terbesar di dunia dan memiliki peran yang sangat penting dalam menopang kehidupan manusia dan makluk lainnya. Tidak hanya berfungsi secara langsung dalam menyokong kehidupan yaitu sebagai sumber pakan dan habitat bagi berbagai mahluk, tetapi juga memiliki fungsi ekologi seperti pengendali banjir dan pengendali perubahan iklim global.
lahan ini juga memiliki sifat yang khusus yaitu sulit untuk pulih apabila terganggu. Hal ini disebabkan oleh proses pembentukan dari hasil pembusukan vegetasi yang berlangsung selama ribuan tahun, sehingga perlindungan terhadap ekosistem lahan gambut penting diterapkan dengan mengelolanya secara bijak dan memperhatikan keseimbangan ekologi, melalui pengelolaan yang terintegrasi.
Pengertian Lahan Gambut
Dikenal sebagai lahan yang rapuh atau rentan dengan perubahan karakteristik yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu perlu pengelolaan yang khas agar tidak terjadi perubahan karakteristik yang menyebabkan produktivitas lahan menurun, apalagi menjadi tidak produktif. Penilaian gambut yang terdegradasi bisa didasarkan atas penampakan atau jenis penutup tanah di lapangan. Lahan gambut yang terdegradasi mengalami penurunan kualitas lahan, baik dari sifat kimia, fisika, maupun biologinya.
Produktivitas lahan gambut sangat tergantung dari pengelolaan dan tindakan manusia. Lahan gambut dikenal sebagai lahan yang rapuh atau rentan terhadap perubahan karakteristik yang tidak menguntungkan. Pengelolaannya perlu hati-hati agar tidak terjadi perubahan karakteristik yang menyebabkan penurunan produktivitas lahan, apalagi menjadi tidak produktif. Salah satu pertimbangan yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan lahan gambut adalah tingkat ketebalan gambut tersebut.
Persebaran Lahannya di Indonesia
luas lahan gambut tropis berkisar 8 persen dari total di dunia. Sebanyak 60 persennya berada di Asia tenggara. Indonesia dengan luasan gambut tropis seluas 13,43 juta hektare menjadi negara dengan kepemilikian luasan gambut tropis terluas di dunia. Lahan gambut di Indonesia tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera dengan lua 5,8 juta hektar, Kalimantan dengan luas 4,5 juta hektare dan Papua dengan luas 3 juta hektare.
Tentang Sifat Lahannya
Terbentuk dari material organik seperti serasah, ranting pohon, akar pohon, dan kayu yang tidak membusuk secara sempurna sehingga menumpuk dan membuat lapisan gambut.
Lahan gambut sangat unik karena memiliki tingkat daya serap air yang sangat tinggi. Gambut memiliki kemampuan menyerap dan menyalurkan air hingga 100% – 1300% dari bobot keringnya sedangkan tanah mineral hanya mampu menyerap 20% – 30%. Hal tersebut disebabkan karena pori-pori tanah gambut sangat besar sehingga air dapat terserap dengan mudah.
Selain itu proses pembusukan yang tidak berjalan sempurna karena kondisi gambut bersifat anaerob (tidak ada oksigen) membuat gambut menyimpan karbon yang sangat tinggi. Gambut memiliki kemampuan menyimpan karbon yang jauh lebih tinggi (18-60% bobotnya) dibandingkan dengan tanah mineral (0.5-5% bobotnya).
Namun, kadar keasaman di lahan gambut sangat asam (pH<4) yang membuat tingkat kesuburannya pun rendah karena unsur hara makro dan mikro (P, K, Ca, Mg, Cu, Zn, Mn, dan Fe) yang cenderung rendah dibandingkan tanah mineral sehingga hanya beberapa jenis tumbuhan tertentu saja yang dapat hidup di lahan gambut.
Kandungan Karbon
Gambut memiliki kandungan karbon (C) yang besar. Hasil perhitungan oleh Matby dan Immirizi (1993) dalam Murdiyarso dan Suryadiputra (2004), gambut dunia mengandung 329-525 Gt (35% total karbon dunia). 9 Gambut di Indonesia menyimpan 46 Gt (catatan: 1 Gt = 10 ton) atau 8-14% total karbon. Dengan demikian, gambut berperan sangt penting sebagai pengaman perubahan iklim global. Jika terbakar, atau terdegradasi, akan teremisi berbagai jenis gas rumah kaca (terutama CO , N O, dan 2 2 CH ) ke atmosfer yang siap untuk merubah iklim global.
Emisi dari Lahan Gambut
Disamping deforestasi atau pengambilan biomas hutan, emisi dari lahan gambut juga disebabkan oleh oksidasi segera setelah sistem didrainase, yang diikuti oleh terjadinya pemadatan dan subsiden permukaan gambut. Pendugaan emisi yang lalu akibat drainase dilaporkan oleh Hooijer et al, (2006) dalam IFCA (2007) yaitu emisi CO berkisar antara 355 dan 874 Juta ton/tahun atau rata-rata 632 juta 2 ton / tahun untuk Asia Tenggara.
Sumber emisi lainnya adalah kebakaran lahan gambut. Perhitungan yang konservatif terhadap emisi CO akibat kebakaran selama kurun waktu 1997-2006 telah dilaporkan sebanyak 1.400 juta ton/tahun. Sekitar 290 persen emisi terjadi di Indonesia.
Peta yang dihasilkan dari kerjasama dengan Wetlands International (Wahyunto et al, 2003) menunjukkan distribusi dan luas lahan gambut menurut kelas kedalaman pada tahun 1990 dan 2002. Berdasarkan perubahan luas setiap tingkat kelas kedalaman selama tahun 1990-2002 dan sifat fisiknya (bulk density dan kandungan karbon) diperkirakan bahwa emisi CO untuk Sumatra sebesar 1061 juta 2 ton per tahun.
Peran Lahan Gambut
- Sebagai Pengatur Tata Air
Bersifat sangat porous sehingga dapat menyimpan air dalam jumlah yang besar. Dalamkeadaan jenuh gambut sapric, hematik dan fibrik dapat mengandung air sebanyak 450%, 450 – 850%, dan lebih dari 850% berat keringnya atau 90% dari volume. Oleh sebab itu, gambut memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai reservoir air tawar sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah banjir pada musim hujan dan melepaskan air pada musim kemarau, juga mencegah intrusi air laut ke daratan.
Lahan gambut di daerah tropika umumnya berada dalam suatu hamparan (cekungan) luas yang disatukan oleh sistem tata-air “terbuka”, artinya air dalam tanah gambut mempunyai mobilitas tinggi, maka pendekatan utama dalam penatagunaan lahan gambut adalah pendekatan ekosistem sebagai satu kesatuan yang terpadu. - Sebagai Habitat untuk Konservasi Biodiversities
Merupakan bagian kecil dari permukaan bumi, dengan jumlah sekitar 400 juta ha,atau 2,5% dari luas permukaan bumi. Beberapa jenis flora dan fauna hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga jika terjadi degradasi, dunia akan kehilangan jenis-jenis yang hanya terdapat di lahan gambut yang tidak bisa tumbuh di tempat lain. Di Sumatera, lebih dari 300 tumbuhan telah ditemukan pada hutan rawa gambut. Jenis-jenis yang penting dan memiliki nilai ekonomis tinggi. - Sebagai Penyerap Karbon (Carbon Sink)
secara potensial dapat menekan terjadinya perubahan iklim dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu konservasi, peningkatan serapan karbon dan substitusi penggunaan bahan bakar fosil dengan biomas. Kegiatan konservasi meliputi perlindungan gambut dari deforestasi dan degradasi akibat aktivitas manusia. Peningkatan serapan dilakukan melalui kegiatan perluasan gambut.
sumber:
https://pantaugambut.id/pelajari/luas-dan-sebaran