Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

sumber: news.detik.com

Indonesia memiliki sekitar 20–21 juta hektar lahan gambut. Lahan gambut tropis terbentuk dalam kondisi curah hujan tinggi, drainase buruk, dan sering terjadi genangan air. Kondisi ini menyebabkan sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk lebih cepat daripada membusuk. Pada musim kemarau, pengeringan gambut yang dikeringkan dapat meningkatkan kekeringan hidrologis, dan dengan demikian meningkatkan risiko kebakaran. Hal ini menjadi perhatian khusus selama kekeringan yang berkepanjangan ketika area lahan gambut yang luas dapat terbakar.

Pengertian Tinggi Muka Air Tanah

Muka air tanah merupakan permukaan dengan tekanan air sama dengan tekanan atmosfer. Dapat digambarkan sebagai “permukaan” material bawah tanah yang terjenuhkan oleh air tanah di sekitarnya. Muka air tanah dapat berubah-ubah tergantung pada berbagai faktor seperti curah hujan, pengambilan air tanah, dan kondisi geologi setempat. Dalam kondisi normal, muka air tanah biasanya berada di bawah permukaan tanah dan berperan sebagai penanda batas antara zona jenuh dan zona tidak jenuh.

Hubungan Tinggi Muka Air dengan Kelembapan Gambut

Tinggi muka air tanah memiliki peran penting dalam menjaga kelembapan lapisan gambut. Semakin dekat posisi muka air terhadap permukaan tanah, semakin tinggi kadar air yang tersimpan di dalam gambut sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.

Sebaliknya, apabila muka air tanah terus menurun, lapisan gambut akan semakin kering dan mudah tersulut oleh sumber api sekecil apa pun. Karena itu, pemantauan tinggi muka air tanah secara rutin menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan gambut.

Hubungan Muka Air Tanah dengan Kebakaran

Lahan gambut terbentuk dari tumpukan bahan organik yang belum terurai sempurna selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, gambut memiliki kandungan air yang tinggi sehingga relatif sulit terbakar. Namun, aktivitas seperti pembukaan lahan, pembangunan kanal, dan musim kemarau dapat menyebabkan muka air tanah turun sehingga gambut menjadi kering.

Ketika lapisan gambut kehilangan kelembapannya, material organik di dalamnya menjadi sangat mudah terbakar. Api bahkan dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran pada lahan biasa. Kondisi inilah yang membuat kebakaran lahan gambut sering berlangsung dalam waktu lama.

Faktor Penyebab Penurunan Muka Air Tanah

Drainase dan Pembangunan Kanal

pembuatan drainase (biasanya dalam pembukaan gambut untuk perkebunan) di sekitar lahan gambut mengubah keadaan itu. Kanal dan parit menurunkan muka air tanah sehingga mempercepat pengeringan dan oksidasi bahan organik.

Musim Kemarau dan Curah huja Rendah

Kebakaran lahan gambut yang berulang telah merusak sebagian besar lahan gambut di Indonesia. Gambut yang kering dan terdegradasi pada musim kemarau merupakan pemicu utama terjadinya kebakaran lahan gambut. Permukaan air tanah sangat memengaruhi kelembapan gambut dan oleh karena itu memberikan tingkat kemudahan gambut untuk terbakar.

Perubahan Tutupan dan Pengunaan Lahan

Konversi lahan gambut, misalnya menjadi perkebunan sawit, berdampak besar terhadap perubahan kondisi hidrologi. Penurunan muka air tanah akibat drainase mempercepat proses dekomposisi bahan organik hingga 300%, memicu subsidensi (penurunan permukaan tanah), serta mengubah struktur mikroba tanah yang semula menyimpan karbon menjadi komunitas yang justru mempercepat pelepasan karbon ke atmosfer.

Ambang Kritis Muka Air Tanah Gambut

Acuan kedalaman 40 Centimeter

Salah satu pasal dalam PP No 57 Tahun 2017 menyebutkan bahwa tinggi muka air tanah yang lebih dari 40 cm dibawah permukaan gambut dapat menyebabkan kerusakan fungsi budidaya.

Kondisi Gambut Terdegradasi

Lahan Gambut Terdegradasi, adalah kondisi dimana kondisi permukaan tanah mengandung karbon kurang dari 35 t.ha-1. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kadar karbon di dalam telah mengalami penurunan signifikan yang disebabkan karena kebakaran maupun subsidensi. Area gambut yang terdegradasi mengalami penurunan kualitas lahan, baik dari sifat kimia, fisika, dan bahkan biologinya.

Dikenal sebagai lahan yang rapuh atau rentan dengan perubahan karakteristik yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu lahan gambut perlu pengelolaan yang khas agar tidak terjadi perubahan karakteristik yang dapat menyebabkan produktivitas lahan menurun, apalagi sampai menjadi tidak produktif.

Ambang Tidak Bersifat Universal

Meskipun angka 40 cm dijadikan acuan nasional, penerapannya di lapangan menunjukkan bahwa ambang ini tidak selalu berlaku seragam di setiap lokasi. Sebuah kasus di Sumatera Selatan menunjukkan sebuah perusahaan konsesi berhasil menjaga muka air tanah tetap di bawah 40 cm sesuai aturan, namun hal ini justru menyebabkan desa-desa di sekitar konsesi yang berada dalam satu Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) mengalami kekeringan hingga muka air tanah turun lebih dari 1,5 meter. Ini menegaskan pentingnya pendekatan restorasi berbasis satu kesatuan hidrologi gambut, bukan per konsesi/lokasi secara terpisah.

sumber:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0016706118313338?via%3Dihub

https://www.semanticscholar.org/paper/REFERENSI-TINGGI-MUKA-AIR-TANAH-BAGI-PENCEGAHAN-DI-Putra-Imanudin/df20e8a95fee82a8a324bf677b461190bf7a22f6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *