Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

Lahan Gambut
sumber: indonesia.wetlands.org

Permukaan Air Tanah memainkan peran penting dalam menentukan emisi gas rumah kaca dan, pada gilirannya, dalam mengatur sistem iklim global. Lahan gambut juga berperan penting bagi kesejahteraan manusia sebagai
penghasil/habitat ikan, hasil hutan non kayu, “carbon – sink”, sebagai penahan banjir, pemasok air, berbagai proses biokimia yang berhubungan dengan air, mengandung plasma nutfah yang bermanfaat (sumber karbohidrat, protein, minyak dan antibiotik).

Pengertian Lahan Gambut

Dalam kondisi basah, lahan gambut merupakan penyerap karbon yang sangat baik hingga dapat membantu mengurangi panas bumi dan krisis iklim. Sebaliknya, gambut kering akan terus-menerus melepas karbon ke udara meski tanpa kebakaran sekalipun. Terlebih, kalau kebakaran, pelepasan karbon dapat meningkat signifikan.

Gambut merupakan akumulasi bahan organik di rawa, berasal dari tanaman tak terurai dengan sempurna. Perlu waktu lama membentuk gambut. Pada Kalimantan Tengah, misal, perlu waktu 140 tahun mencapai kedalaman 0,5-1 meter.

Sementara gambut kedalaman 8-10 meter memakan waktu 13.000-25.000 tahun untuk terbentuk. Mengeringkan gambut, berarti membuka celah kebakaran pada materi organik maha karya puluhan ribu tahun ini.

Karakteristik Lahan Gambut

Lahan gambut terbentuk dari material-material organik seperti serasah, ranting pohon, akar pohon, dan kayu yang tidak membusuk secara sempurna sehingga menumpuk dan membuat lapisan gambut.

Lahan gambut sangat unik karena memiliki tingkat daya serap air yang sangat tinggi. Gambut memiliki kemampuan menyerap dan menyalurkan air hingga 100% – 1300% dari bobot keringnya sedangkan tanah mineral hanya mampu menyerap 20% – 30%. Hal tersebut disebabkan karena pori-pori tanah gambut sangat besar sehingga air dapat terserap dengan mudah.

Dampak Pengeringan Gambut

Alam dan manusia menjadi faktor penentu kekeringan di lahan gambut. Perubahan iklim yang berakibat pada musim kemarau dapat membuat gambut menjadi kering. Selain itu, pengeringan lahan gambut sering dilakukan secara sengaja untuk mengubah gambut menjadi lahan industri pertanian dan perkebunan.

Menyebabkan produktivitas lahan menurun, apalagi menjadi tidak produktif. Mengalami penurunan kualitas lahan, baik dari sifat kimia, fisika, maupun biologinya. Kemampuan tanah gambut memegang air jika mengalami pemanasan yang berlebih akan mengalami penurunan yang drastis. Dalam kondisi demikian, lahan gambut rentan kebakaran pada musim kemarau dan mudah mengalami banjir pada musim hujan. Kondisi tersebut juga menyebabkan efisiensi dan efektivitas pemupukan menjadi rendah.

Ambang Batas Aman Air Tanah di Lahan Gambut

Agar lebih efektif mencegah kebakaran, perlu ada peraturan yang mensyaratkan gambut harus dalam kondisi jenuh air. Sebagai konsekuensinya, syarat agar tinggi muka air gambut dipertahankan pada kedalaman 0,4 meter—sesuai PP No. 57/2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut–, perlu dikaji ulang.

Syarat tinggi muka air 0,4 meter tidak seharusnya berlaku sama rata pada semua tipe lahan gambut. Apalagi, mempertahankan tinggi muka air 0,4 meter pun tidak menghentikan pertambahan pelepasan karbon dan subsiden lahan. Terlebih, pemantauan terhadap tinggi muka air 0,4 meter di lapangan juga sulit dilakukan.

Teknologi Pemantauan Air di Lahan Gambut

Untuk mengatasi hal ini kami sudah menyiapkan solusi yaitu Alat Ukur TInggi Muka Air Tanah (TMAT) adalah perangkat yang berfungi untuk menunjang kebutuhan pemantauan air tanah secara otomatis dan real-time. Dikembangkan menggunakan teknologi internet of things (IoT) perangkat ini dilengkapi dengan beberapa komponen sensor yang terdiri atas rainfall sensor, soil moisture sensor, dan water level submersible sensor.

sumber:

https://pantaugambut.id/pelajari/pengeringan

https://tmat.co.id/alat-ukur-tinggi-muka-air-tanah

https://wri-indonesia.org/id/wawasan/gambut-itu-harus-basah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *