
Indonesia merupakan lokasi penting lahan gambut, dan merupakan rumah bagi sepertiga total lahan gambut tropis. Ekosistem lahan gambut sangat penting untuk penyimpanan karbon dan menyediakan beragam jasa ekosistem, termasuk habitat bagi keanekaragaman hayati, pengaturan air, dan pengendalian polusi.
Apa itu Gambut?
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk, seperti serasah, ranting pohon, akar pohon, dan kayu yang tidak membusuk secara sempurna sehingga menumpuk dan membuat lapisan gambut.
Lahan gambut sangat unik karena memiliki tingkat daya serap air yang sangat tinggi. Gambut memiliki kemampuan menyerap dan menyalurkan air hingga 100% – 1300% dari bobot keringnya sedangkan tanah mineral hanya mampu menyerap 20% – 30%. Hal tersebut disebabkan karena pori-pori tanah gambut sangat besar sehingga air dapat terserap dengan mudah.
Pengaruh Tinggi Muka Air Tanah Terhadap Kondisi Gambut
Tinggi muka air tanah yang terlalu sedikit atau terlalu dangkal/turun (kering) di lahan gambut menyebabkan kerusakan ekosistem yang parah, termasuk kebakaran lahan dan emisi karbon. Gambut yang kering menjadi sangat rentan terhadap api, bahkan dengan sumber api yang kecil sekalipun. Berkurangnya tutupan pohon di lahan gambut, berdampak pada perubahan suhu yang kemudian mempercepat oksidasi tanah gambut. Oksidasi yang melepaskan karbon ke udara membentuk kondisi yang kondusif untuk terjadinya kebakaran.
Kebakaran di lahan gambut didominasi dengan smouldering combustion yang dapat berlangsung lama, bahkan sampai berbulan-bulan. Api juga dapat menjalar ke lapisan dalam gambut yang berisi banyak bahan organik seperti daun, cabang, batang pohon, yang menjadi bahan bakar untuk tetap tetap dapat membara di bawah permukaan gambut meskipun di permukaan gambut api terlihat sudah padam.
Pentingnya Mitigasi Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut
Mitigasi risiko terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut dapat dilakukan dengan pendekatan berbasis ilmiah dan juga teknologi. Adapun untuk mendukung penguatan sistem mitigasi risiko pada upaya pengelolaan dan perlindungan gambut bisa melalui:
1. Implementasi Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah
Inovasi di bidang teknologi telah menghadirkan berbagai solusi untuk banyak bidang dan salah satunya untuk pemantauan lingkungan gambut. Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah adalah solusi berbasis teknologi internet of things (IoT) yang memanfaatkan sistem sensor tinggi muka air, data logger, dan internet untuk melakukan pemantauan tinggi muka air tanah secara otomatis.
Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah ini berperan penting untuk mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan gambut melalui pengambilan keputusan berbasis data. Perangkat ini beroperasi otomatis selama 24 jam non stop sehingga mendukung real-time monitoring untuk menyajikan data pelaporan tinggi muka air tanah secara akurat.
2. Modifikasi cuaca
Modifikasi cuaca di Indonesia kerap dilakukan saat dihadapkan pada kondisi kemarau dan bertujuan untuk memitigasi potensi kejadian bencana kebakaran hingga kekeringan. Dalam hal ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menjadi yang berwenang untuk melakukan operasi modifikasi cuaca.
Modifikasi cuaca dilakukan dengan memicu potensi awan hujan yang ada di atmosfer. Dengan menebar garam ke dalam awan hujan sehingga bisa turun dan menjadi hujan di tempat atau titik tertentu yang ditargetkan.
Teknologi Untuk Mendukung Pengambilan Keputusan Cepat Melalui Real-Time Monitoring
Teknologi yang tepat untuk mengatasi hal ini adalah Sistem Peringatan Dini Kebakaran Lahan. Perangkat yang dikembangkan untuk melakukan pemantauan beberapa parameter lingkungan. Perangkat ini mengukur parameter iklim berupa curah hujan, parameter air berupa tinggi muka air tanah (TMAT). Serta parameter tanah berupa kelembapan (soil moisture). Integrasi beberapa jenis sensor tersebut bertujuan untuk meningkatkan mitigasi terhadap kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan kebakaran lahan.
sumber:
https://tmat.co.id/sistem-peringatan-dini-kebakaran-lahan
https://tmat.co.id/mitigasi-risiko-kebakaran-hutan-dan-lahan-gambut