Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

Lahan Gambut
sumber: rmol.id

Lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang kelangsungan kehidupan, kongkritnya lahan difungsikan sebagai tempat manusia beraktivitas untuk mempertahankan eksistensi, aktivitas yang pertama kali dilakukan adalah pemanfaatan lahan untuk bercocok tanam, lahan bagi petani merupakan salah satu unsur yang paling fundamental, sebab dari lahan inilah mereka menggantungkan hidupnya untuk digunakan bercocok tanam.

Dalam ekonomi dan pertanian, lahan mencakup semua sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dibawah, pada, maupun suatu bidang geografis. Dalam bahasa sehari-hari orang menyamakanlahan dengan “tanah”. Lahan merupakan lingkungan fisis dan biotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan dan kesejahteraan hidup manusia, lingkungan fisis meliputi relief (topografi), iklim, tanah, dan air, sedangkan lingkungan biotik meliputi hewan, tumbuhan dan manusia.

Pengertian Konversi Lahan

Konversi lahan adalah perubahan fungsi lahan akibat aktivitas manusia. Konversi lahan yang dikaji adalah perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian (sawah) menjadi lahan non sawah. Wilayah yang mengalami
konversi lahan pada umumnya wilayah yang dekat dengan perkotaan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah menjadi lahan nonsawah antara lain faktor sosial, ekonomi, dan kebijaksanaan pembangunan.

Faktor sosial ditunjukkan dengan peningkatan jumlah penduduk yang mendorong kebutuhan lahan yang semakin tinggi. Sementara faktor ekonomi ditunjukkan dengan keterdesakan ekonomi petani sehingga terpaksa menjual lahannya kepada pihak lain yang pada umumnya membutuhkan lahan untuk kegiatan pembangunan. Kebijaksanaan pembangunan ditunjukkan dengan adanya campur tangan pemerintah dalam hal penggunaan lahan untuk pembangunan wilayah.

Klasifikasi Gambut Berdasarkan Ketebalan Lapisanya

Gambut Dangkal
Dengan ketebalan 50 – 100 cm, dibentuk oleh bahan organik yang bercampur dengan tanah mineral yang terletak tepat di bawah lapisan gambut. Gambut dangkal cenderung lebih matang dan lebih subur. Campuran tanah mineral membuat kandungan unsur hara seperti Ca dan Mg di gambut dangkal menjadi relatif lebih tinggi.

Gambut sedang
Dengan ketebalan 100 – 200 cm, kandungan bahan organik lebih banyak dibandingkan dengan gambut dangkal. Hal ini dikarenakan adanya lebih banyak bahan tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Kemudian akan mati dan mengalami proses pelapukan untuk membentuk lapisan gambut baru. Sebaliknya, gambut sedang mengalami penurunan kadar unsur hara. Karena peningkatan ketebalan yang mengurangi pengaruh dari tanah mineral sehingga gambut sedang cenderung lebih tidak subur dibandingkan gambut dangkal.

Gambut dalam
Dengan ketebalan 200 – 300 cm, didominasi oleh bahan organik dan pengaruh dari tanah mineral semakin menurun. Gambut dalam juga memiliki kadar Fosfor (P) dan unsur mineral yang rendah sehingga membuatnya menjadi tidak subur.

Jenis Jenis Gambut Berdasarkan Tingkat Kematangan Dilapisan Atas

Fibrik (mentah)
yaitu gambut yang belum melapuk dan bahan induknya bisa dikenali dengan mudah. Warnanya cokelat dan strukturnya didominasi oleh serat kasar. Sehingga bila diremas bahan serat yang tertinggal di tangan sebanyak lebih dari 75%.

Hemik (setengah matang)
yaitu gambut setengah lapuk dan sebagian bahan induknya masih bisa dikenali. Warnanya cokelat dan strukturnya lebih kasar dari gambut saprik tetapi lebih halus dari gambut fibrik, sehingga bila diremas bahan serat yang tertinggal di tangan berada di kisaran 15-75%.

Saprik (matang), yaitu gambut yang sudah melapuk dan bahan asalnya sudah tidak bisa dikenali. Warnanya cokelat tua hingga hitam dan strukturnya relatif lebih halus, sehingga bila diremas oleh tangan kandungan serat yang tertinggal di tangan kurang dari 15%.

Konversi Lahan Gambut di DAS

Konversi lahan gambut berakibat nyata menurunnya ketahanan lingkungan. Yang terjadi membawa lahan gambut tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Regulasi hukum yang menyangkut konversi lahan sudah banyak dituangkan dalam peraturan dan perundangundangan, namun sejauh ini pelaksanaannya masih tidak sesuai dengan aturan yang telah dibuat. Hal ini terkendala karena kurangnya koordinasi dan pelaksanaan kebijakan dalam konsistensi perencanaan yang telah dibuat.

Biodiversitas Vegetasi Lahan Gambut DAS

Tutupan lahan gambut di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar Riau Sumatera telah mengalami perubahan. Maraknya keberadaan perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) menyebabkan hilangnya vegetasi alami gambut. Akibatnya fungsi lahan gambut mengalami penuruan bahkan sudah mengalami kerusakan. Tutupan lahan berupa vegetasi merupakan kunci utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem lahan gambut.

sumber:

https://ejournal.unibba.ac.id/index.php/Geoarea/article/download/712/590/2192

https://journal.ipb.ac.id/sodality/article/download/9405/7370

https://pantaugambut.id/pelajari/kematangan-kesuburan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *