
Tanah gambut mengandung karbon organik jauh lebih tinggi dari jenis tanah lainnya. Karbon organik di atas muka air tanah gambut cenderung lebih rendah karena adanya proses oksidasi, dekomposisi dan pencucian. Sedangkan di lapisan bawah muka air tanah akan lebih tinggi karena adanya pengawetan. Alih fungsi lahan gambut menjadi fungsi budidaya seperti kebun sawit akan mengakibatkan menurunnya kandungan karbon organik tanah. Hal ini diduga terjadi karena adanya erosi, subsiden dan dekomposisi
Pengertian Lahan Gambut
Semua lahan gambut dapat dijumpai di berbagai belahan dunia. Lahan gambut adalah lahan basah dengan lapisan tanah berair yang terdiri dari bahan tanaman mati dan membusuk. Yang termasuk kedalam lahan gambut diantaranya adalah moor, bog, mires, hutan rawa gambut dan permafrost tundra. Luas lahan gambut secara keseluruhan mencapai setengah luas lahan basah di dunia, dan menutupi 3% dari total luas permukaan bumi . Semua lahan gambut dapat dijumpai di berbagai belahan dunia.
Karakteristik Topografi Lahan Gambut
Berupa Dataran Rendah
Gambut Indonesia umumnya mencakup lahan rawa dan hutan yang luas dan berada di daerah lanskap rendah. Terletak terutama di antara sungai-sungai besar, dengan sebaran terbesar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Tanah gambut selalu terbentuk pada tempat yang jenuh air atau tergenang. Seperti cekungan daerah pelembahan, rawa bekas danau, atau depresi/basin pada dataran pantai di antara dua sungai besar.
Memiliki Kemiringan
Permukaannya bersifat cembung (convex), membentuk kubah yang landai dari puncak menuju tepi. Hasil pelapukan bahan organik membentuk lapisan gambut baru yang lama-kelamaan membentuk kubah (dome) gambut dengan permukaan yang cembung. Bentuk kubah ini bisa relatif teratur pada gambut ombrogen murni, tetapi kenyataannya sering asimetris. Tergantung bentuk cekungan dasar, pola sungai di sekitarnya, dan sejarah pertumbuhannya.
Dapat Membentuk Kubah Gambut (Peat Dome)
Ciri-ciri gambut Indonesia umumnya memiliki kubah gambut besar dan berhutan (woody peat) mencakup lahan gambut rawa dan hutan yang luas dan berada di daerah lanskap rendah. Terletak terutama di antara sungai besar. Lokasi gambut paling besar tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Gambut tropis Indonesia merupakan satu ekosistem penting di antara ekosistem lain (highcarbon reservoir ecosystem) berkat peran vitalnya sebagai penampung karbon dan air serta daya dukungnya kepada ekosistem sungai dan pantai.
Rentan Terhadap Perubahan Elevasi akibat drainase
Penyebab utama penurunan gambut adalah hilangnya air tanah dari ekosistem yang tergenang secara alami. Terutama akibat pembangunan saluran drainase. Sistem drainase yang intensif biasanya digunakan agar gambut dapat ditanami dengan tanaman pertanian dan untuk memfasilitasi kegiatan transportasi. Namun, kegiatan ini menyebabkan penurunan kedalaman muka air tanah, sehingga tanah gambut menjadi kering dan terurai dengan lebih cepat. Akibatnya, lapisan gambut yang sebelumnya berair menjadi terpapar oksigen, sehingga aktivitas mikroba dan oksidasi biologis endapan organik meningkat. Oksidasi gambut akhirnya menyebabkan kehilangan karbon secara signifikan, yang mengakibatkan penurunan.
Pemanfaatan Hasil Pemetaan Tanah Gambut
Penetapan Fungsi Kawasan
Fungsi Lindung Ekosistem Gambut (FLEG) adalah gambut dengan karakteristik tertentu yang memiliki fungsi dalam perlindungan dan keseimbangan tata air, penyimpan cadangan karbon, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Biasanya gambut pada FLEG memiliki kedalaman lebih dari tiga meter. Pemanfaatan pada ekosistem gambut dengan fungsi lindung sangat terbatas. Hanya dapat dilakukan pemanfaatan untuk kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan/atau jasa lingkungan.
Sedangkan Fungsi Budidaya Ekosistem Gambut (FBEG) adalah gambut yang memiliki karakteristik tertentu yang memiliki fungsi dalam menunjang produktivitas ekosistem gambut melalui kegiatan budi daya sesuai daya dukungnya. Meskipun gambut pada kawasan FBEG dapat digunakan untuk budi daya, kegiatan yang dilakukan haruslah tetap menganut pengelolaan lahan gambut berkelanjutan karena masih merupakan bagian dari satu ekosistem gambut.
Pengatur Tata Air (Hydrological Regulator)
Struktur fisik gambut yang berpori dan mampu menyerap air hingga beberapa kali. Bobot keringnya menjadikan ekosistem ini sebagai reservoir alami. Pada musim hujan, gambut menyimpan kelebihan air dan mengurangi potensi banjir, sedangkan pada musim kemarau air dilepaskan secara perlahan sehingga menjaga kelembapan lingkungan sekitar (Joosten & Clarke, 2002). Dengan demikian, keberadaan gambut berperan penting dalam menjaga stabilitas hidrologi lanskap dan keseimbangan ekosistem daerah aliran sungai.
Mitigasi Kebakaran Lahan
Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan menurut PP No. 45 Pasal 20 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan meliputi pencegahan, pemadaman dan penangan pasca kebakaran. Penanganan kebakaran hutan dan lahan yang paling efektif adalah dengan melakukan pencegahan sebelum terjadinya kebakaran. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan sosialisasi terkait bahayanya kebakaran hutan. Merevisi peraturan perundangan yang berkaitan dengan pemberian perizinan di lahan gambut, serta pengamatan titik rawan kebakaran yang lebih intensif.
sumber: