Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

Pemantauan tinggi muka air tanah mendukung mitigasi risiko terhadap potensi kebakaran hutan
Sumber: Pexels

Perlindungan dan pengelolaan gambut yang terintegrasi sangat diperlukan untuk menjaga keberadaan serta kondisi ekosistem gambut tidak rusak. Perubahan iklim hingga peran dari faktor manusia menjadi faktor yang berpotensi untuk membawa pengaruh bagi ekosistem gambut. Potensi kebakaran hutan dan lahan gambut menjadi tantangan yang berpotensi mengalami peningkatan angka kejadian saat memasuki musim kemarau serta pengaruh dari fenomena El Nino.

Pengertian Gambut

Gambut memiliki keunikan yang kemudian membuatnya sangat bermanfaat. Tanah gambut terbentuk dari beberapa material organik yang ada di alam. Unsur-unsur yang membentuk gambut terdiri atas material organik yang dapat berupa serasah, ranting, pohon, akar pohon, dan kayu yang tidak membusuk secara sempurna sehingga menumpuk kemudian membuat lapisan gambut.

Keberadaan gambut memiliki peran yang vital terhadap kelangsungan banyak makhluk hidup dan menjaga keseimbangan alam. Meskipun secara statistik, luas gambut hanya 3 – 4% dari total daratan yang ada di seluruh dunia. Selain menyimpan keanekaragaman hayati, gambut juga berperan penting dalam menyimpan karbon dalam jumlah besar. 

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut pengertian gambut adalah material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dan terakumulasi pada rawa. Sedangkan ekosistem gambut adalah tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya.

Secara alami, gambut adalah lahan basah yang memiliki daya serap sangat tinggi. Gambut mampu menyerap dan menyalurkan air yang mencapai 100 – 1300% dari bobot keringnya. Daya serap yang dimiliki gambut ini jauh lebih unggul dibandingkan tanah mineral yang hanya mampu menyerap 20 – 30%. 

Selain itu, gambut juga berperan penting dalam menanggulangi perubahan iklim dengan kemampuan menyimpan karbon yang mencapai 18 – 60% dari total bobot keringnya. Namun di sisi lain gambut juga menghadapi berbagai tantangan lingkungan baik karena faktor alam maupun manusia yang berpotensi untuk mengakibatkan degradasi gambut. Sebab ketika terjadi degradasi atau gambut kering membuka celah untuk lebih mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut justru memicu pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.

Tantangan Perlindungan Gambut

Laju perkembangan zaman membawa banyak pengaruh di beberapa aspek lingkungan, salah satunya bagi keberadaan dan kelangsungan ekosistem gambut. Pertumbuhan industri dan tingginya permintaan terhadap produk-produk agrikultur berdampak terhadap kebutuhan lahan perkebunan. 

Hal yang tak luput dari perkembangan industri tersebut adalah pemanfaatan lahan gambut. Kondisi tersebut pula yang kemudian menjadi pekerjaan rumah bersama dalam upaya perlindungan dan pengelolaan gambut di Indonesia.

Gambut tropis seperti yang ada di Indonesia dikenal sebagai habitat bagi berbagai macam flora dan fauna endemik. Bahkan, gambut di Indonesia juga dikenal memiliki kekayaan jenis flora tertinggi jika dibandingkan dengan lahan gambut lainnya.

Selain tingkat kekayaan jenis flora tertinggi, ekosistem gambut di Indonesia juga menjadi habitat bagi beberapa jenis fauna yang dilindungi dan terancam punah. Beberapa jenis satwa yang berada dalam status terancam punah di antaranya orangutan, lutung merah, macan dahan Kalimantan, bangau hutan rawa, dan angsa sayap putih.

Beberapa faktor risiko yang berpotensi untuk mempengaruhi keberadaan dan kelangsungan ekosistem gambut di antaranya meliputi:

1. Pembukaan Lahan

Salah satu metode pembukaan lahan atau land clearing yang paling sering dijumpai adalah slash and burn (teknik tebas bakar). Metode ini menjadi yang umum digunakan karena dinilai lebih cepat dan biaya yang murah. Padahal seperti yang kita ketahui, gambut memiliki kekayaan flora yang sangat tinggi.

Selain itu, pembukaan lahan dengan pembakaran justru menjadi kontra produktif dengan kemampuan gambut saat masih basah atau dalam kondisi alaminya. Pembakaran yang dilakukan di lahan gambut selain berpotensi untuk menyebabkan pelepasan karbon dalam jumlah besar juga dapat berlangsung jauh lebih lama. 

Hal ini mengingat gambut terbentuk dari material organik yang sangat mudah terbakar jika kering dan dapat membakar hingga lapisan di bawah permukaan tanah.

2. Alih Fungsi Lahan

Pemanfaatan dan alih fungsi lahan gambut untuk area perkebunan juga menjadi faktor risiko yang harus dimitigasi dengan baik dalam pengelolaan gambut.  Kebutuhan irigasi dan pembuatan drainase di area lahan gambut berpotensi untuk mempengaruhi tinggi muka air tanah gambut. 

Dalam kondisi tersebut, jika berlangsung dalam waktu lama berpotensi menimbulkan degradasi lahan gambut. Indikasi kerusakan gambut salah satunya adalah tinggi muka air tanah gambut yang lebih dari 40 cm di bawah permukaan tanah.

Faktor yang Mempengaruhi Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut

Dalam upaya pengelolaan dan perlindungan gambut pemetaan beberapa faktor risiko menjadi aspek fundamental untuk menjaga kelestarian ekosistem gambut. Terlebih, jika dihadapkan dengan pengaruh faktor eksternal seperti cuaca yang juga dapat menjadi pengaruh terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut.

Di Indonesia yang merupakan negara beriklim tropis, saat memasuki musim kemarau seringkali berdampak pada minimnya curah hujan. Kondisi tersebut masih berpotensi diperparah jika kemarau berlangsung bersamaan dengan adanya fenomena El Nino yang dapat membawa dampak pada kenaikan suhu udara hingga ekstrem, curah hujan yang minim, dan potensi kemarau untuk dapat berlangsung lebih lama.

Faktor yang mempengaruhi kebakaran hutan dan lahan gambut dapat disebabkan oleh:

1. Tingkat Curah Hujan

Dampak yang ditimbulkan saat memasuki musim kemarau ada perubahan curah hujan. Padahal curah hujan yang ideal atau cukup dibutuhkan untuk banyak hal. Jika terjadi fenomena hari tanpa hujan selain berdampak pada minimnya input pada saluran air permukaan juga dapat menjadi pemicu kejadian bencana mulai dari kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika membagi hari tanpa hujan ke dalam 5 kategori yang meliputi sangat pendek ( 0 – 5 hari), pendek (6 – 10 hari), menengah (11 – 20 hari), panjang ( 21 – 30 hari), sangat panjang (31 – 60 hari), dan ekstrem (lebih dari 60 hari).

2. Tinggi Muka Air Tanah

Kurangnya curah hujan tidak hanya berpengaruh pada input di saluran air permukaan, namun juga berdampak pada kondisi air tanah. Terjadinya hari tanpa hujan yang sangat panjang atau ekstrem berpotensi untuk mempengaruhi tinggi muka air tanah dan menjadi parameter terhadap kerusakan gambut.

Tinggi muka air tanah yang lebih dari 40 cm di bawah permukaan tanah gambut tidak hanya mengindikasikan kerusakan. Kondisi ini juga dapat mengakibatkan gambut menjadi kering yang artinya juga membuka celah untuk potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut.

Mitigasi Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut

Mitigasi risiko terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut dapat dilakukan dengan pendekatan berbasis ilmiah dan juga teknologi. Adapun untuk mendukung penguatan sistem mitigasi risiko pada upaya pengelolaan dan perlindungan gambut bisa melalui:

1. Implementasi Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah

Inovasi di bidang teknologi telah menghadirkan berbagai solusi untuk banyak bidang dan salah satunya untuk pemantauan lingkungan gambut. Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah adalah solusi berbasis teknologi internet of things (IoT) yang memanfaatkan sistem sensor tinggi muka air, data logger, dan internet untuk melakukan pemantauan tinggi muka air tanah secara otomatis.

Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah ini berperan penting untuk mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan gambut melalui pengambilan keputusan berbasis data. Perangkat ini beroperasi otomatis selama 24 jam non stop sehingga mendukung real-time monitoring untuk menyajikan data pelaporan tinggi muka air tanah secara akurat.

2. Modifikasi cuaca

Modifikasi cuaca di Indonesia kerap dilakukan saat dihadapkan pada kondisi kemarau dan bertujuan untuk memitigasi potensi kejadian bencana kebakaran hingga kekeringan. Dalam hal ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menjadi yang berwenang untuk melakukan operasi modifikasi cuaca. 

Modifikasi cuaca dilakukan dengan memicu potensi awan hujan yang ada di atmosfer dengan menebar garam ke dalam awan hujan sehingga bisa turun dan menjadi hujan di tempat atau titik tertentu yang ditargetkan.

Sumber:

https://pantaugambut.id/pelajari/karakteristik

https://peraturan.bpk.go.id/Details/5778

https://peraturan.bpk.go.id/Details/5513/pp-no-71-tahun-2014

https://pantaugambut.id/pelajari/habitat-keanekaragaman-hayati

https://www.unep.org/resources/global-peatlands-assessment-2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *