Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

Alat Ukur TMAT untuk Lahan Gambut
sumber: mertani.co.id

Tanah gambut merupakan jenis tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang mengaami pembusukan secara lambat di daerah yang tergenang. Proses pembentukanya juga membutuhkan waktu yang lama sekitar ratusan, oleh karena itu gambut menjadikan sumber daya alam yang berharga.

Di Indonesia sendiri luas gambut diperkirakan mencapai 20,6 juta hektare, atau sekitar 10% luas daratan di Indonesia pada tahun 2011-2012. Lokasinya pun tersebar di beberapa pulau besar, seperti: Sumatra, Kalimantan, dan sampai ke Papua. Seiring perkembangan penduduk gambut pun di alih fungsikan menjadi lahan pertanian, untuk industri bahan baku kertas, dan untuk pemukiman penduduk.

Manfaat Tanah Gambut

1. Sebagai Penyimpanan Karbon (Carbon Storage dan Carbon Sink)

Gambut merupakan salah satu ekosistem penyimpanan karbon terbesar di daratan karena terbentuk dari akumulasi bahan organik yang terdekomposisi secara lambat. Proses ini menyebabkan lahan gambut menyimpan banyak karbon dalam jumlah yang sangat besar selama ratusan hingga ribuan tahun. Bahkan cadangan karbon yang signifikan pada skala global memiliki peran yang sangat penting untuk memitigasi perubahan iklim. Ketika tanah gambut dalam kondisi jenuh air maka akan berfungsi sebagai penyerap karbon atau carbon slink, namun saat sedang mengalami drainase dan kebakaran makan berubah menjadi sumber emisi karbon.

2. Pengatur Tata Air (Hydrological Regulator)

Struktur yang berpori dan mampu menyerap air sampai berkali lipat berat dari bobot aslinya saat kering menjadikannya sebagai wadah alami. Saat musim hujan berlangsung, lahan tersebut menyimpan kelebihan air dan mengurangi potensi bencana banjir, sedangkan pada saat kemarau air dilepaskan secara perlahan hingga tetap menjaga kelembapan lingkungan sekitar dan menjaga ekosistem daerah aliran sungai.

3. Penopan Keanegaragaman Hayati (Biodiversty Suport System)

Sebagai habitat dari berbagai spesies flora dan fauna hingga banyak spesies endemik dan langka ditemukan pada ekosistem tersebut, menjadikanya sebagai kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi, hal tersebut juga yang melandasi kontribusi terhadap stabilisasi pada ekosistem serta menyediakan sumber plasma yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemerintahan berlanjut.

4. Pengendali Perubahan Iklim Global

Memiliki peran dalam menyimpan karbon dalam sekala yang besar menjadikanya sebagai komponen yang sangat penting dalam sistem iklim global. Kerusakan akibat deforestasi, drainase, dan kebakaran lahan menyebabkan pelepasan karbon dalam sekala besar ke atmosfer. Oleh karena itu, perlindungan dan restorasi menjadi strategi yang penting dalam kebijakan mitigasi perubahan iklim.

5. Potensi Pengembangan Pertanian Adaptif (Paludikultur)

Lahan gambut memiliki potensi untuk dikembangkan melalui sistem pertanian adaptif berbasis lahan basah, yaitu dengan budidaya tanaman tanpa mengeringkan gambut, memungkinkan produksi biomassa dan komoditas tetap berlangsung tanpa merusak fungsi hidrologi pada lahan tersebut.


Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)
sumber: mertani.co.id

Ancaman Pada Lahan Gambut

Ancaman yang paling sering terjadi pada lahan gambut adalah sebagai alih fungsi lahan yang dilakukan dengan cara penebangan, pengeringan, dan pembakaran, menyebabkan lahan mengalami degradasi sehingga melepaskan emisi-emisi karbon ke udara.

1. Penebangan di Atas Lahan Gambut

Penebangan hutan atau lahan dapat dimonitoring melalui indikator tree cover loss, yaitu hilangnya tutupan tajuk kanopi yang terditeksi menggunakan data berbasis satelit, Data tersebut digunakan sebagai identifikasi dinamika deforestasi secara temporal pada ekosistm gambut. Hilangnya tutupan pohon diatas permukaan dapat menganggu keseimbangan hidrologi dan mempercepat proses digradasi sehingga menyebabkan peningkatan suhu permukaan dan mempercepat pula pengeringan diatas permukaan.

2. Pengeringan Lahan

Pembangunan kanal drainase merupakan tahapan awal yang umum dilakukan dalam proses konversi hutan dan rawa menjadi lahan budidaya, dirancang untuk mempercepat aliran air agar keluar dari kawasan sehingga muka air turun secara signifikan sehingga memudahkan aktivitas penanaman. Pengeringan lahan akibat penurunan tinggi muka air tanah juga dapat menyebabkan oksidasi, proses ini mempercepat dekomposisi dan melepas karbon yang tersimpan selama ribuan tahun ke atmosfer dalam bentuk CO2 dan memicu terjadinya subsidensi akibat penyusutan volume gambut

3. Pembakaran Lahan Gambut

Kebakaran lahan merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi disetiap musim kemarau diberbagai wilayah Indonesia, terutamanya di wilayah gambut yang rawan untuk terbakar. Oleh karena itu, pendekatan pengelolaan lahan gambut juga harus mengedepankan prisnip pengaturan tinggi muka air tanah. Pengelolaan tinggi muka air tanah bisa di monitoring memelalui perangkat Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah), perangkat tersebut mampu memonitoring tinggi muka air tanah secara otomatis, reall-time dan sudah pasti sangat akurat sehingga membantu dalam proses pengambilan keputusan terhadap ekosostem yang rentan terhadap kebakaran.

Dengan pengelolaan hidrologi yang baik serta pemanfaatan teknologi Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah) keseimbangan ekosistem gambut dapat dipertahankan. Sigma membantu menyediakan solusi untuk sistem pemantauan terkait air tanah sehingga pengambilan keputusan dapat diambil melalui data yang reall-time dan akurat.

Sumber:

https://tmat.co.id/alat-ukur-tmat-tinggi-muka-air-tanah

https://www.mertani.co.id/post/mengenal-tanah-gambut-klasifikasi-pemanfaatan-dan-upaya-menjaga-kelestariannya

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=7RPUEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA35&dq=lahan+gambut+iklim+global&ots=eNKpclBDmF&sig=e285cqQn7qINRGzRLPdl7MrnWfo&redir_esc=y#v=onepage&q=lahan%20gambut%20iklim%20global&f=false

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *