Alat Ukur TMAT (Tinggi Muka Air Tanah)

Lahan Gambut

sumber: mertani.co.id

Lahan gambut merupakan sumber daya alam yang sangat potensial dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Pemanfaatan lahan gambut yang lebih masif untuk memasok bahan pangan dipicu oleh laju alih fungsi lahan pertanian, pertambahan jumlah penduduk, dan keinginan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Produktivitas lahan gambut sangat tergantung dari pengelolaan dan tindakan manusia. Lahan gambut dikenal sebagai lahan yang rapuh atau rentan terhadap perubahan karakteristik yang tidak menguntungkan. Pengelolaan lahan gambut perlu hati-hati agar tidak terjadi perubahan karakteristik yang menyebabkan penurunan produktivitas lahan, apalagi menjadi tidak produktif. Salah satu pertimbangan yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan lahan gambut adalah tingkat ketebalan gambut tersebut.

Potensi dan Tantangan Lahan Pertanian Gambut

  1. Gambut sebagai Lahan Pertanian
    Lahan gambut dimanfaatkan sebagai lahan pertanian terutama pertanian tanaman pangan. Pada lahan yang ditanami tersebut masyarakat banyak menanan tanaman seperti padi, jagung, ubi dan ketela.
  2. Tantangan Mengapa Pemanfaatan Gambut Tidak Bisa Sembarangan
    (1) penurunan pH limbah cair yang keluar dari pabrik masih bersifat asam, dengan pH 4 -5. Pada keadaan asam tersebut bakteri anaerobik akan membentuk asam organik VPA (Volatile fatty Acid atau Acid Forming) yang disertai dengan terbentuknya gas karbon dioksida (CO2) sehingga pH akan makin menurun. (2) Apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air. (3) Kebakaran lahan gambut mencakup bahan bakar di permukaan dan bawah permukaan (gambut), di mana api dapat menyusup ke lapisan bawah secara bertahap hingga lapisan yang cukup lembab di sekat muka air tanah. (4) Kesalahan fatal dalam mengelola subsidensi akan berdampak kerusakan gambut yang ireversible karena apabila gambut tersebut kembali digenangi air, maka kepadatannya tidak akan berbalik kembali.

Prinsip Utama Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan

Pengelolaan Tata Air (Water Management)
Pemanfaatan lahan gambut untuk area perkebunan memerlukan suatu perlakuan khusus, yaitu berupa pengendalian tata air gambut dengan membangun jaringan drainase yang kompleks. Pembuatan saluran drainase tersebut perlu dilakukan dengan perhitungan yang akurat dengan memperhitungkan ketebalan gambut, kondisi hidrologis dan curah hujan. Pada prinsipnya pengelolaan bertujuan agar gambut tidak terlalu kering pada musim kemarau maupun terlalu basah pada musim penghujan.

Pemilihan Komoditas Ramah Gambut (Paludikultur)
Lahan rawa gambut/pasang surut makin penting peranannya dalam meningkatkan produktivitas tanaman untuk mendukung ketahanan pangan nasional, kesejahteraan petani secara merata dan berkelanjutan serta mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Lahan rawa gambut/pasang surut merupakan salah satu lahan marginal yang mempunyai banyak keterbatasan namun karena ketersediaan lahannya cukup luas, ketersediaan air yang melimpah dan bentuk topografinya yang datar sehingga dianggap cocok sebagai lahan alternatif untuk mengatasi kebutuhan pangan nasional.

Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB)
Memanfaatkan gulma yang tumbuh dengan tanpa membakar dapat menjadi sumber humus. Gulma ditebas, ditumpuk dalam parit kecil, dan ditutup kembali dengan tanah agar terjadi dekomposisi dan menghasilkan unsur hara. Enzim pengurai untuk mempercepat proses dekomposisi dapat dibuat sendiri oleh petani dengan bahan-bahan yang mudah didapat, seperti dedak, buah-buahan, gula, dan lain-lain yang disebut sebagai formula F0 dan F1 embio, untuk mempercepat proses penguraian bahan organik, juga untuk mempercepat pemulihan biota tanah yang hilang akibat pembakaran.

Menyiapkan Lahan Tanpa Bakar memiliki banyak manfaat dalam meningkatkan kualitas lahan dan memanfaatkan sisa-sisa daun, sampah, dan gulma sebagai sumber humus dan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik lebih baik dalam menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, berbeda dengan penggunaan pupuk kimia yang dapat merusak kesuburan tanah.

Peran Teknologi dan Pemantauan dalam Pertanian Gambut

Pemantauan Kondisi Lahan menggunakan Alat Ukur TMAT
Metodologi penelitian melibatkan pemilihan lokasi penelitian, pemasangan TMAT, ombrometer, dan piezometer untuk mengumpulkan data, serta pengolahan dan analisis data. Parameter yang diamati meliputi tinggi muka air, curah hujan, dan water table. Tes kalibrasi akan dilakukan untuk memastikan ketepatan pengukuran TMAT. Selain itu, ombrometer akan mengukur curah hujan, sedangkan piezometer akan menentukan elevasi muka air di lahan dan saluran.

Kepatuhan terhadap Regulasi
Perlindungan dan pengelolaan Ekosistem Gambut adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi Ekosistem Gambut dan mencegah terjadinya kerusakan Ekosistem Gambut yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Gambut adalah material organik yang terbentuk secara alami dari sisa_sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 55 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada rawa.

sumber: